Friday, 16 February 2018

AKU, FLP, DAN MIMPI KELILING DUNIA



Dulu, seujung-kuku pun saya tidak berani punya mimpi keliling dunia. What? keliling dunia? boro-boro! Bisa traveling gratis keluar kota saja sudah girang luar biasa.

Saya bukan anak raja, bukan anak ulama. Bapak (alm) adalah lulusan SMP yang selalu merasa beruntung bisa menjadi pegawai negeri golongan dua. Ibu adalah lulusan SD yang berjualan es teh di pasar besar agar asap dapur terus mengepul. Setiap hari ibu menunggui rombong kecil hasil karya Bapak, menjadi pahlawan bagi para kuli panggul yang kehausan.

Meski orang biasa, kedua orang tua saya istimewa. Bapak adalah pelahap buku sejarah dan budaya Jawa yang Masyaallah. Dari gaji bulanan yang entah berapa, dipotong angsuran ini-itu, disisihkan untuk menafkahi nenek, dan selebihnya untuk kebutuhan pendidikan dan konsumsi keluarga, ada majalah berbahasa Jawa yang setiap bulan diantar pak pos ke rumah kami. 


Budget langganan majalah dianggarkan Bapak entah sejak kapan, yang jelas ada banyak majalah dengan merek sama di rumah berdinding triplek kami. Sebuah lemari kayu besar sampai tak muat menyimpannya. Pernah, Bapak tertarik memiliki buku yang sudah tidak lagi cetak hingga melakukan korespondensi dengan penerbitnya berkali-kali. Walhasil paket berisi beberapa fotokopian buku datang ke rumah kami. Bapakku yang gigih.

Di kantor, Bapak menjadi rujukan banyak petinggi soal budaya Jawa. Dari jujugan menjawab PR untuk anaknya pegawai hingga menggambar wayang di atas cengkir untuk syukuran tujuh bulanan kehamilan. Sesekali datang pesanan melukis karakter wayang di atas kaca. Bapak kebangganku memang banyak bisanya. Sementara ibu, ahli berhitung idola kami sekeluarga. Ibu yang tak kenal sempoa, tak mengerti jarimatika, mampu menyebut angka berapapun dengan operasi bilangan apapun yang ditanyakan anak-anaknya tanpa menghitung di atas kertas. Ajaib betul.

Saya, si bungsu Bapak yang suka membaca dan Ibu yang cepat berhitung, berhasil menjadi juara kelas sejak SD hingga SMP, kemudian lolos ke SMA favorit di Malang yang bersubsidi setiap bulannya. Karena ditunjuk ikut lomba ini dan itu, alhamdulillah, Jakarta dan beberapa kota di Jawa pernah saya datangi, gratis. Namun begitu, saya selalu menyadarkan diri, pantang membebani orang tua. Cukuplah mereka menanggung biaya hidup dan sekolah saya SD hingga kuliah nanti. S2 nya apa nggak pengin? Bangeet lah, tapi nanti saja, bekerja dulu, cari penghasilan dulu. 




 Nah... keliling dunia? Niat apa pula ini? Tapi kemudian dalam forum LSM se-Indonesia di Yogyakarta, Allah mempertemukan saya dengan seorang gadis China super-enerjik yang hobi traveling.  Banyak negara telah dikunjunginya. Inggris, India, jepang, Korea, USA, aah banyak sekali. 


Mupeeng.... lama-lama saya ketularan juga. Cita-cita untuk mengitari Bumi pun saya pertimbangkan dalam daftar "God please make my dreams come true".

Tapi begitu saja. Mimpi. Baru mimpi. Saya tak tahu harus bagaimana dan dari mana untuk bisa keliling dunia. Waktu berlalu.

Alhasil, saya berhasil terbang ke luar negeri untuk pertama kali pada awal September 2015. Mengikuti Gong Traveling: Explore Singapore, Saya tidak hanya beruntung dapat menikmati panorama di luar tanah air, namun juga belajar bersama Bapaknya si Roy, penulis kenamaan Forum Lingkar Pena, Mas Gol A Gong. Bagaimana ceritanya? cukup panjang sih...

Nama Forum Lingkar Pena (FLP) sebenarnya sudah akrab di telinga saya sejak awal berdirinya,  tahun 1997.  Pasalnya, organisasi ini punya ikatan erat seperti amplop dan perangko dengan Annida, majalah kesayangan saat itu. Sebagai pembaca setia (Bapak jelas berhasil menularkan hobinya), tentu saya akrab dengan nama dan karya pegiatnya. Setelah melanjutkan studi di Yogyakarta, diskusi kepenulisan bersama bunda Helvy Tiana Rosa  sampai korespondensi dengan penulis favorit Sakti Wibowo sempat saya lakukan. Namun karena belum cukup percaya diri dengan kemampuan menulis, belum ada krenteg untuk bergabung dengan FLP.
Saya dan orang-orang keren anggota FLP itu rasanya seperti...
engkau berada jauh di sana dan aku di rumah
memandang kagum pada dirinya dalam layar kaca (eh buku)
nah malah nyanyi, gitu deh...

Ya, saya suka menulis. Namun lebih ke tulisan ilmiah. Beberapa, Alhamdulillah menjuarai lomba. Sedangkan karya populer saya, paling banter hanya terbit di dinding kamar kost sebagai mading pribadi. Sekedar memaksa diri agar selalu menulis. Beberapa puisi kadang saya hadiahkan kepada teman yang sedang dirundung duka.

Usai kuliah, saya kembali ke kampung halaman. Ada tekad untuk lebih sering menulis agar pikiran tidak tumpul. Niatnya, menghidupkan semangat belajar Yogya di kepala. Dan Alhamdulillah, Majalah Akbar milik pemerintah kota Tuban menjadi alamat menuangkan opini demi opini.

Detik berlalu, menit berganti. Hari berlari. Tahu-tahu, buku harian yang dulunya setiap menjelang tidur selalu saya sapa dengan untaian  kata, mangkrak entah di mana keberadaannya. Sebagai guru baru di sekolah full day, saya tetap menulis, tetapi bukan puisi, bukan cerpen, bukan opini, bahkan sekedar renungan santai. Tulisan baru ini bergenre administrasi dan  rencana pembelajaran, serta soal ulangan. Tangan saya kaku, pikiran kering, hati buntu merespon realitas. Hasrat menulis hilang. Syediih...

Suatu saat ketika sedang menata rak buku besar dengan ratusan buku yang berantakan, kertas warna-warni beraneka bentuk menyembul tanpa diharapkan. Saya pungut dan amati, ternyata mereka hasil coretan yang pernah  saya pajang di majalah dinding pribadi, dulu. Saya dibawa flash-back hingga sesi bersih-bersih di akhir pekan itu terlupakan. Lucu dan seru, namun tiba-tiba ada suara tanpa bunyi yang menyapa, 

“Sudah lama banget ya nggak nulis yang begini?”

Menulis! Menulis! Menulis! Saya harus menulis agar bisa berdiskusi dengan diri sendiri. Saya butuh menulis agar pikiran-pikiran yang sering menyembul di kepala tanpa diminta ini tidak keburu menguap. Saya bukan orang yang sangat kaya, apalagi yang dapat saya bagi, jika bukan tulisan?
Saat azzam itu sudah saya ikrarkan dalam hati, eh esoknya seorang kawan tiba-tiba menyapa “ustadzah, njenengan suka nulis kan?” Dia menceritakan sebuah komunitas yang sedang diprakarsainya, Komunitas SEMUT (sekolah menulis Tuban). “ayo bergabung!!” ajaknya.
Appaaah?? Ayuuuk!!!
Ya Rabby yang Maha So Sweet, terimakasih atas pengertianMu.


Akhirnya saya bergabung dalam komunitas yang pada tanggal 23 Agustus 2014 bermetamorfosa menjadi FLP cabang Tuban. Dibimbing oleh para aktivis FLP Lamongan yang beberapa telah melahirkan karya, semangat saya terpacu. Semangat itu membuat saya mewajibkan diri untuk memiliki kolom rutin. Surat lamaran saya layangkan kepada pimpinan redaksi majalah Al Uswah. 

Diterima, Yess!!

Meski masih acakadut, saya menulis juga di blog pribadi dan media sosial. Semakin banyak penulis di friend list, semakin banyak penerbit yang saya kepoin eventnya. Hingga news feed di laman akun isinya tulisan para penulis dan penerbit.

Nah, Suatu saat dari penerbit indiva, saya mendapatkan info tentang kegiatan gong-traveling, sebuah program jalan-jalan ke Singapore bersama Golagong. Saya sempat beberapa menit googling untuk memastikan bahwa akun yang menulis info tersebut asli milik mas Golagong dan nomor contact yang saya hubungi adalah asli milik mbak Tyas Tatanka. Seriuus. Ini acara keren dan murah meriah. Dan yang pasti....

Oh My God... guweh mau ke luar negeri untuk pertama kali (hebring)

Dan begitulah, tiga hari dua malam saya dan enam penulis pemula lainnya akhirnya jalan-jalan bersama mas Golagong keliling Singapore.



Apa rasanya jalan-jalan ke luar negeri? Senang? Bersyukur? Yap, tepatnya ketagihan. Terutama karena Mas Golagong saat itu tidak hanya mengenalkan kami pada apa yang kami lihat, tapi juga tips agar kami bisa secepatnya melihat-lihat lagi alam semesta: traveling abroad. Jadi bener saja, usai datang dari Singapore, ada satu laman yang sering saya kunjungi: promo tiket pesawat. Kapan pun, seneng saja rasanya mengecek harga tiket kemana pada musim apa.


Saya ketagihan jalan-jalan ke luar negeri. Bukan untuk mlete-mleteanShopping pun saya sangat sadar budget. Jalan-jalan ke luar negeri bagi saya adalah proses menuntut ilmu yang luar biasa. Melihat kultur berbeda, perspektif berbeda, beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda. Ini sungguh sangat sesuatu: penuh ilmu, penuh hikmah, absolutely mencerahkan dan mendewasakan.


Nah, setahun selanjutnya saya menargetkan lagi untuk terbang ke negeri orang. Yang dekat saja, yang hemat ongkosnya. Tidak dinyana, Tuhan mengabulkan impian saya lainnya dan membuat kesempatan ini semakin terbuka lebar. Meski harus mundur sedikit, di awal Januari 2017 saya terbang ke Kuala Lumpur berkat beasiswa LPDP untuk melakukan riset di sebuah komunitas di sana. Alhamdulillah, halaman paspor terisi lagi.


(Ya, gemes sih dengan paspor yang cukup tebal. Masa iya kita hanya akan pakai sekali dua kali saja selama rentang lima tahun?)



By the way, kisah lolos saya sebagai awardee LPDP ini nggak lepas juga dari FLP. Secara, Mbak Sinta Yudisia, ketua FLP saat itu ikut menjadi salah satu referee saya. Dalam resume yang saya buat, FLP menjadi salah satu organisasi yang saya presentasikan sebagai tempat mengabdi, melalui Reading Campaign, dan sekolah menulis. Kebiasaan menerima tantangan menulis topik random di FLP Tuban juga sangat membantu saya dalam tes essay on the spot yang... weuuuwh




Nah, kembali ke Kuala Lumpur, jalan-jalan yang kedua ini tidak lepas dari tulis menulis. Adalah Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia, yang menjadi objek penelitian saya, adalah komunitas Tenaga Kerja wanita, mahasiswi serta ekspatriat yang salah satu kegiatannya adalah menulis. Kajian Islam adalah nafas dari komunitas ini. Para Founding Mothers dan pegiat FLP merupakan bintang tamu yang rutin mengisi kajian tahunan komunitas ini.


 Saat di Kuala Lumpur, memperkenalkan diri sebagai anak FLP, saya jadi berkenalan dengan komunitas penulis nasional yang sudah melebarkan sayapnya di negeri jiran ini. Sahabat Pena Nusantara Cabang Malaysia. Alhamdulillah... penulis ketemunya sama penulis dong!



Belum habis 2017, saya mendapati berita gembira pada bulan September. Dari 966 pelamar Study Trip: Life of Muslims in Germany, saya dipercaya menjadi satu dari empat belas peserta program tersebut.


Yeay terbang lagi. Alhamdulillah ya Rabb…


Perjalanan di Jerman ini sangat istimewa. Alhamdulillaah sekali, si biru jaket kebesaran FLP Jawa Timur baru banget datang. Yap, kebesaran dalam arti sesungguhnya. Tapi tak apa. Sejak awal si biru sudah saya niatkan akan ikut jalan-jalan keliling Jerman.



Oiya... Selain ketiban rejeki study trip gratis ke Jerman, saya juga beruntung bisa berteman dengan Ustazah dan aktris nasional idola para akhwat (dan ikhwan, diem-diem hayoo) Mbak Oki Setiana Dewi, yang juga terpilih sebagai peserta program ini. Si Mbak nya ini suer baik hati, mau banget dimintain endorse ini itu, termasuk saya mintain ucapan selamat buat Munas FLP IV. Ini videonya saya ambil saat boat trip dan goyang-goyang cukup perjuangan. ehehehe




Nah, lagi-lagi soal perjalanan ini dengan FLP (really, my life is all about FLP), jauh-jauh hari saya meminta nomer kontak komunitas FLP di Jerman ke Babe (panggilan sayang kami ke Pak Rafif ketua FLP Jawa Timur). Namun karena baik saya maupun Babe lagi hectic dengan jadwal masing-masing, ya sudah lah... da daah sampai ke Jerman tanpa satu kontak pun anak FLP.




Tapi, usai berkunjung ke masjid Al Falah Berlin, bertemu dengan aktivis yang ramah-ramah, cerita ke sana kemari, terbongkarlah bahwa ternyata Kak Dimas ketua komunitas ini adalah ketua FLP periode sebelumnya.

“Terus terus... ketua yang sekarang siapa dong?”
“Ituu... Hudzaifah yang tadi jadi khatib Jumat.”


Oh My God, jadi si ketua FLP Jerman ini yang ngantar kita jalan-jalan ke Festival of Light (event internasional dua tahunan yang sangat diminati masyarakat Berlin. Peserta lomba proyeksi cahaya di dinding bangunan-bangunan icon Berlin ini diikuti banyak negara, termasuk Indonesia). 


Jadi malam itu FLP jadi bahan obrolan saya dan Pak Ketua serta couple-nya yang manten baru ini.


“Yuk foto dong, mumpung ini” ajak saya
“Eh bentuk huruf FLP dong”

Nah jadilah pose ini




 Once again, hidup saya jadi all about FLP. And I am greatly proud of it. Siapa yang sangka, mimpi keliling dunia yang rasanya mustahiil banget, sedikit demi sedikit mulai menemukan pintunya. Pintunya warna biru, berlogo FLP.


Kereeen. Terima kasih Rabby...


Bulan depan, insyaallah saya akan berkunjung ke negara yang lain lagi. Keliling beberapa negara Eropa dalam dua pekan. Kalau ditanya adakah lagi hubungannya dengan FLP? Ada! Serius! Ini project yang sejak embrio pernah saya ceritakan kepada Mbak Sinta sebelum beliau memberikan tanda tangannya untuk rekomendasi aplikasi LPDP saya.

Saya berharap bisa ke Belanda, Mbak. Menggali kisah tentang manuskrip jawa yang hilang. Dia kini terbaring di perpustakaan terbesar di Belanda. Leiden University Library. Saya akan menulisnya dalam tesis saya. Dan sebagai versi populernya, kelak saya akan mengisahkannya dalam sebuah novel.


Yup, saat ini saya menunggu pembuatan visa. Semoga selekasnya jadi. Dan akan lebih banyak lagi cerita tentang saya dan FLP dalam perjalanan kali ini, nanti dan nanti lagi, ke negara dan benua lainnya. Aamiiin



#kisahinspiratifFLP
#miladFLP21

43 comments:

  1. Mbk Hiday keren....
    Ah, kapan aku bisa ke LN nyusul mbak. Bahasa Inggris aja belepotan..heheπŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
  2. Mbak hiday, salah satu inspirator kuu. Terus berkarya mbak, barakallah:)

    ReplyDelete
  3. Teuladankuuuhhhh.... Sukses terus mbaaa... #pelukPenuhCinta

    ReplyDelete
  4. Perjalanan yang luar byasssa... Menginspirasi diri ini untuk berekspresi....

    ReplyDelete
  5. Waaaahhhh kereeeen.... berasa dapet cipratan semangaat ini. Sehat selalu mbak... sukses untuk mimpi2nya πŸ˜‡

    ReplyDelete
  6. Aih...... Daebak pokoknya 😍
    Cerita awalnya agak2 mirip gueh wkwk....

    ReplyDelete
  7. Mbak satu ini makin keren aja. Berkah mbaak

    ReplyDelete
  8. Mengenal sosoknya yg 'humble' saya jadi punya idola baru. Terutama tekad, semangat dan satu lg keyakinannya yg tak pernah mati untuk terus meraih mimpi. Bahwa tidak ada yg tidak mungkin dicapai di dunia ini atas izinNya...kun fa yakun...barakallahufiik mbk say, diam2 aku turut berdoa dalam hati, kelak aku akan menyusulmu dan tak lagi menghayal jadi isi kopermu lagi. Hihihi...

    ReplyDelete
  9. Menarik sekali dan menginspirasi.
    Barokallah, Mba ku. Semoga semakin banyak pintu yang terbuka. Keliling dunia.

    ReplyDelete
  10. Baca tulisan ini serasa ikut merasakan salah satu perjalanan yang so amazing dari seorang mbak Hiday. Semoga kelak bisa mengikuti jejak mbak. Bisa menjelajah di bumi Allah hingga ke luar negeri. Aamiin.

    So inspiratif mbak. Keren banget ^^

    ReplyDelete
  11. Masya Allah kerennyaaa...inspiratif sekali. Bikin mupengπŸ˜†πŸ˜†

    ReplyDelete
  12. Inspiring. Mantap mbk. Moga perjalanan k eropanya bulan depan berjalan lancar mbk.. terimakasih sudah jadi sosok yg menginspirasi.

    ReplyDelete
  13. Noted. Minta ke Bunda Shinta juga aahh.😎

    ReplyDelete
  14. Noted. Minta ke Bunda juga aaahhn 😎

    ReplyDelete
  15. Sangat menginspirasi. Yang sepertinya harus saya garis bawahi adalah SEMUT. Suatu hari nanti, saya ingin belajar ke Tuban untuk mengadopsi banyak hal, lalu saya terapkan saat pulang ke kampung halaman di Nganjuk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semut ki ya FLP Tuban itu Cak. Dulu sblm jadi FLP namanya SEmUT

      Delete
  16. Sangat menginspirasi, Mbak. Tapi benar sekali, bahwa sesuatu terjadi berawal dari mimpi dan bagaimana tapak kita berusaha mewujudkannya.
    Sukses mbak.

    ReplyDelete
  17. Mbak Hiday makasih .... Dapat pencerahan. Jadi malu ama impian sendiri dibanding dengan malesnyaπŸ˜₯πŸ˜₯

    ReplyDelete
  18. Senang bisa mengenal Mba Hiday dan pernah stay di rumahnya secara dadakan..hihii...semangat Mba dan terus menginspirasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senang juga bs kenal super woman blogger rider ini

      Delete
  19. Senang bisa mengenal Mba Hiday. Tetap semangat dan terus menginspirasi.

    ReplyDelete
  20. Subhanallah ... benar-benar wonder woman, jejak-jejak kai mbak hiday ada di mana2. Ilmu mbak hiday tiada tara, Kapan ane bisa menyusulnya.
    Sukses selalu setia mendampingi mbak hiday tercinta.
    😊😊

    ReplyDelete
  21. mbak hiday keren...
    dirimu sosok kakak dan guru yang inspiratif...

    bahagianya diriku bisa ketemu dengan orang orang hebat seperti kalian... :)

    ReplyDelete