Sunday, 6 August 2017

Realisme Sosial dan Perang Aksara: Review Cerpen Uncle Ik



Sejarah dunia berlangsung dalam dikotomi perang dan harmoni. Perang sendiri adalah sebuah siklus yang hampir tak pernah putus, ibarat ayam dan telur, telur atau ayam. Entah mana yang lebih dahulu, perang yang menciptakan neraka dunia, atau setan-setan yang menyulut perang.



Pada akhirnya tata tertib dunia tidak lebih dari hukum rimba, berkuasa-dikuasai. Kasta-kasta tercipta: bangsawan-proletar, kesatria-sudra, kaya-miskin. Begitulah, tersurat maupun tersirat.


kita tidak sedang bicara tentang Perang Dunia, Revolusi Perancis atau Amerika, bahkan penjajahan Yahudi di Palestina. Kenyataan ini terjadi di mana saja, pulau ini, kabupaten itu, kecamatan di sana, desa di sini, tempat tinggal kita sendiri.


Uncle Ik adalah salah satu saksi dari wajah-wajah hitam kehidupan dan dehumanisasi dalam berbagai bentuknya, lewat matanya ketika membaca buku, hidungnya ketika mencium bau tak sedap dari setiap jengkal tanah yang dipijak kakinya, disentuh oleh tangannya.


Input melahirkan output. Kelahiran putra-putri ideologisnya tak mungkin jauh dari fakta dan pengetahuan yang disantapnya sehari-hari. Referensi buku dan film asing membuat nama-nama tempat seperti Quebec, Florida, Somalia, New York atau Hawai lebih mungkin bertabur dalam tarian aksaranya, dibanding Toraja, Halmahera, Banda Aceh atau Sumbawa.


Terkadang, Uncle merasa tak perlu menyebut di mana kisahnya terjadi. Mungkin mengajak kita berimajinasi tentang sebuah negeri antah berantah yang hanya ada dalam imajinasi kita sendiri.


Bahkan jika pembaca akan berasumsi itu pelosok Papua sementara Uncle bermaksud bercerita tentang Ethiopia, tak penting, karena topik adalah satu unsur yang tampaknya selalu menjadi kekuatan karyanya.


Uncle (sepanjang yang saya baca dari Blog Uncle Ik atau kumpulan cerpen Mengenang Yang Patah) tak pernah memilih tema biasa. Penderitaan (Remance dari Somalia), pembunuhan (Liontin, Being a Bird), penggusuran (Pancasila di Atas Reruntuhan), bunuh diri (Janedou, Kunang-kunang di New York), dan potret buram sosial lainnya yang tertimbun di antara lautan gambar tentang romansa yang hedon dan utopis.


Kalaupun menyoal cinta, tak mungkin dia sudi menyajikannya ala skenario drama korea dan FTV. Para penggemarnya mungkin hanya akan menemukan tema ini, love: sumber inspirasi sejuta umat, diramunya menjadi kisah cinta rakyat biasa (yang kadang dibuatnya jadi rumit) seperti Anemia, Simfoni, Laika dan Titi. Uncle memang telah menentukan kredonya sendiri. Aliran yang menantang arus, anti-mainstream.


Bicara tentang Bahagia Mati Sebagai Anjing, sebuah cerpen yang saya diharuskan untuk me-review-nya, rasanya tak jauh dari tulisannya yang lain. Sejujurnya saya agak menyesal karena sebelumnya membaca ulasan dalam Blog Mas Heru
yang diakhiri pengakuan penulisnya bahwa perang (pembunuhan sadis) yang dibawakannya dalam cerpen ini mengandung makna simbolis.


Tapi saya mencoba tak peduli. Dalam kajian hermeneutika, author harus merelakan reader berasumsi apa saja pada karyanya. Teks yang dulu dikandungnya terlanjur lahir dan kini memiliki nyawa sendiri untuk berinteraksi dengan siapa saja, lepas dari kekangan bapaknya.

Di sinilah kami dikumpulkan, dipaksa berdiri walau tulang kami serasa lolos semua setelah habis dipukuli, dicambuk, digiring berpuluh-puluh kilometer jauhnya dengan berjalan kaki, bahkan beberapa dari kami diseret paksa karena sudah tidak sanggup berjalan.

“Showing” yang kuat mengawali cerita ini. Kalimat kompleks bersusun menyedot pembaca serupa pensieve Dumbledore. Tiba-tiba kita berdiri entah di mana dan mempertanyakan “ada apa?” Selanjutnya uncle Ik mendeskripsikan apa yang terjadi, pelan-pelan, seperti cara tirai teater dibuka untuk mengakumulasi penasaran.


Setelah beberapa paragraf, kita akan menemukan Amran, makhluk biasa yang punya rasa takut dan bisa mati. Sosok yang mungkin didapati penulis dari orang-orang yang ditemuinya sehari-hari, atau mungkin pada dirinya sendiri.


Anjing! Jawab kalau ditanya!”


Memetisme, kalimat umpatan itu dipilihnya untuk menggambarkan betapa adegan kehidupan sekelam itu memang ada di dunia. Manusia di-anjing-kan, tidak, lebih sadis lagi. Harusnya membunuh anjing  adalah tindakan yang menuai kecaman.


Tapi tak ada yang mengecam saat leher Amran diterjang timah panas, tubuhnya kejang-kejang, darah muncrat dari lehernya yang bolong. Ngeri. Sadis. Ngilu. Tapi semua detail itu tidak mungkin dipungut penulisnya tanpa alasan.


Betapa uncle menanggung kejadian itu terjadi di depan mata atau imajinasinya sendiri. Dan kini dia ingin berbagi empatinya kepada pembaca. lihatlah! lihatlah! ini terjadi di dunia. Tak puas, Uncle masih hendak meyakinkan semua orang. Cara ini sadis. Ini benar-benar tragis.



Memilih diksi yang menyihir, membuat bulu kuduk berdiri, adalah  keahlian khusus Uncle Ik. Namun jika diminta jeli mencari perbaikan, saya memilih bagian itu ada pada endingnya.


Cukup disayangkan, logika yang dibangun sejak awal menjadi kurang konsisten ketika  “aku” masih saja bercerita ketika dirinya telah “habis”. Jelas berbeda dengan logika surealis atau (terutama) fantasi yang membangun cerita dengan aturan-aturan sendiri.


Uncle tak seharusnya berubah haluan di seperempat bagian terakhir. Rasanya kurang penting memperjelas bahwa Amran lebih kesatria, karena semua yang lebih anjing telah mendapat hadiahnya sendiri.


Tapi over all, saya angkat topi, cerpen ini keren. Dengan skill dan penguasaannya yang terus meningkat hari ke hari, karya-karya Uncle harusnya sudah keluar dari zona fiksi blog menuju fiksi koran, berkompetisi dengan ribuan pengirim di media cetak.


Mengenai makna simbolik, meski tak benar-benar ingin menebak, saya selalu berpikir bahwa perang memang tidak hanya soal mengangkat senjata.Perang ideologi  jelas lebih sadis karena bukan nyawa yang dibantai, tapi jiwa.


Dalam konteks sastra yang ditekuninya, bisa jadi perang itu adalah pertarungan Uncle  melawan arus. Amran adalah dirinya yang telah menentukan sikap, kukuh mempertahankan ideologi menulisnya yang menantang matahari, meskipun harus dihentikan.


Dia ingin menegaskan, betapa dia akan tetap merasa beruntung, karena mereka yang tak bersungguh-sungguh pada kebenaran, pada akhirnya juga akan dihentikan pada waktu dan kondisi yang lebih mengejutkan.

#image source:
global-liputan6.com

16 comments:

  1. Woooww, luar biasa, saya nggak pernah nyangka kalau tulisan iseng saya bisa dibedah sekeren ini.

    Saya jadi bertanya-tanya, apakah saya memang se-anti mainstream itu?

    Mungkin akan terjawab di tulisan tulisan saya selanjutnya.

    Terima kasih banyak Mbak Hiday

    ReplyDelete
  2. Bahasanya tinggi...keren bet reviewnya

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Kereeen bangeet kak hiday reviewnya bikin merinding...

    ReplyDelete
  5. Sy sampe Nahan napas baca review yang luar biasa ini!

    ReplyDelete
  6. Wow... dua orang keren bersatu. Suerrr merinding. Ihh kapan iput bisa sekeren itu. Pemikiran yang bener bener udah tinggi bet. Pen bisa bikin tulisan seberat itu huhu.

    Bunda hiday dan Uncle emg kerennn~

    sukses dan sehat selalu untuk kalian:')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aih Put jangan bilang gitu, gak enak sama Kak Na, ahahaha

      Delete
  7. Wah... Tulisan & review tingkat tinggi ini mah, saya cuma bisa berdecak kagum ��

    ReplyDelete
  8. Otak saya ndak nutut kalau disuruh mereview tulisan sedahsyat mbm Hiday ini.

    ReplyDelete
  9. Uhowoowww...harusnyaa saya gakk baca inii!!

    Gilak kalian, Suhuu!

    ReplyDelete
  10. Luar biasa. Dibedahnya detil banget.

    ReplyDelete
  11. Mbak Hiday keren banget..!!!

    Pengen dong mbak di review...😘😘😘😘

    ReplyDelete
  12. Wow ulasannya mbak Hiday keren. Tulisan uncle Ik yang keren emang pas dibedah mbak Hiday

    ReplyDelete