Sunday, 30 July 2017

Jurus Mengusir Writer's Block



Writer's block (selanjutnya kita sebut WB ya!), makanan apa tuh?


Menurut kamus sejumput umat Wikipedia, WB adalah keadaan di mana seorang penulis mendadak jadi kesulitan mengekspresikan ide dalam tulisan. Buntu, kaku, gelap, mendung, langit berguncang, petir menyambar (eh ini apa sih?). Yah gitu lah maksudnya: mandeg, tidak produktif.



Ada banyak jurus anti WB, sebenarnya. Kawan cek sajalah pake search-angine, banyaaak, berbaris-baris seperti kue lapis. Tapi seperti minum obat, bisa jadi ada yang lebih cocok minum parasetamol ketika demam, sedangkan yang lain minum madu. Ada juga yang nunggu gajian baru sembuh. Lha!


Nah, yang saya tulis ini adalah jurus menumpas WB versi  s a y a. Sangat mungkin Anda tidak cocok, it's okay.
Karena WB adalah penyakit para penulis, berbahagialah Anda karena hanya penulis saja yang akan terserang penyakit ini. Jangan mimpi terserang WB kalo nulis aja nggak pernah. Ya iyyalaah..


Ala-ala dokter, mari mendeteksi apa sebab WB sebenarnya. Dari seorang analis kepenulisan- dari buku yang ditulisnya- dari seseorang tanpa julukan yang mereviewnya kembali- berkata bahwa: WB bisa disebabkan antara lain karena tidak konsisten, sibuk, suka menunda, krisis pede, dan sering diremehkan.


Di antara sebab yang berderet di atas, yang terakhir adalah yang paling parah, stadium lanjut. Bagaimana seseorang bisa bangun dari koma WB kalau yakin saja enggak. Butuh keajaiban untuk menendang hantu yang bergelayut di otaknya. Karena jika  sebuah penyakit teramat sulit untuk disembuhkan, tangani pikirannya bukan yang lain.


Kita akan ulas WB stadium lebih ringan: tidak konsisten, sibuk, menunda, tidak pede. Komplit, semuanya pernah menyerang saya. 


Meskipun WB bukan penyakit yang permanen singgah dan permanen pergi, setidaknya saya memiliki satu resep cukup efektif untuk mengusirnya, yaitu mencari tantangan, atau kasarnya: paksaan. Paksaan akan lebih efektif jika sifatnya formal dan berdampak jika tidak kita lakukan. Singkat kata, saya mengikuti banyak project ber-diedline yang menyerukan tagihan jika tugas belum tuntas terlaksana.


Project demi project ini seringkali merangsang otak kanan saya melahirkan lebih banyak ide untuk diinventaris dan dikerjakan di waktu kosong sebagai target pribadi. Dengan demikian, saya akan punya topik menulis setiap hari.


Masalah krisis pede, punya penanganan sedikit berbeda. Saya berhadapan dengan kasus ini justru ketika banyak membaca. Semakin kaya akan referensi yang bermutu, pernah, tangan saya kaku, hati enggan menuliskan sesuatu yang tidak sempurna, padahal otak menyerah, belum mampu. Saya flashback, baca karya-karya sebelumnya. Kadang ketidaktahuan membuat kita lebih percaya diri. Saya meyakinkan diri, ini pasti berlalu.


Saya lalu teringat ungkapan bahwa kita tidak cukup belajar dari buku bagus. Dari buku tak bagus, kita justru belajar untuk menghindari kesalahan. Pesan ini saya kunyah pelan-pelan. Selain itu, ada kalimat ajaib dari seorang kawan penulis:


Menulis seperti pembual, mengedit seperti profesor.


Di saat WB menyerang, kalimat ini berkali-kali saya ucapkan dalam hati. Sampai dia menggema, "hey, siapa yang mengharuskanmu menulis sempurna sejak putaran pertama? Come on! Masih banyak tahap untuk memperbaikinya. Tulis aja!"
Yup, it works for me.


Saya lalu mendapatkan banyak lagi ilmu tentang menghindari WP. Free writing. Ketika laptop sudah ada di hadapan tapi kata-kata tak kunjung datang, tulis saja. Sekali tulis.


Apa yang harus ditulis, kan buntu!!
Tulis aja kebuntuan itu. Deretan konsonan, tak terbaca, it's okay lanjutkan. Terus... terus... dan coba cek berapa lama waktu yang kita butuhkan ketika tiba-tiba ide mampir sendiri pada proses pembuangan sampah ini.


Yas, itu!


Kata Hemingway, tulisan pertama adalah sampah. Jadi no worries, toh nanti bisa dihapus, diedit, dipermak.


Maka begitulah kawan, saya mencoba mengusir setan bernama WB. Warning, penyakit ini masih bisa datang lagi kapan saja semudah influenza. Kuatkan stamina, kumpulkan tekad. Mari sering berdoa agar WB tak sudi lagi menghampiri kita.


Fighting!!! *ala-drakor

5 comments:

  1. Fighting *gaya imut, ala drakor juga. 😄

    ReplyDelete
  2. Saya sering banget ngalamin ini. Ternyata WB to.
    Klo udah kena WB pengen banting laptop aja. Jahahaha

    ReplyDelete
  3. Aduh sayang banget mas Laptopnya, mending sini kasih ke saya aja jiahaha

    ReplyDelete